Air Bertuah Curug Cikaso

Di kursi belakang, jari-jemarinya yang halus menggenggam tempurung lutut kananku. Telapak tanggannya terasa sangat halus kala bersinggungan dengan kulitku. Tudung kepalanya telah ia lepas. Rambut hitamnya yang panjang, tergerai melebihi bahunya yang mungil. Helai-helai rambutnya beterbangan tertiup angin yang menyelusup dari pintu Elf yang menganga lebar. Tak jarang helai-helai rambutnya mendarat di wajahku, menguarkan aroma sampo yang khas.

Lanjutkan membaca Air Bertuah Curug Cikaso

Dewi Sari Bunga

Sebenarnya ada yang sedikit mengganjal pagi itu. Pintu kamar-kamar di penginapan tertutup rapat semua. Gorden-gordennya pun rapat menutupi kaca jendela kamar yang kehitaman. Lampu pijar yang kuning keremangan tampak menyala di dalam deretan kamar-kamar itu. Dan kini ada beberapa sepeda motor terparkir di lorong penginapan yang sempit. Padahal kami sangat yakin, semalam hanya kami yang menginap di penginapan ini.

Lanjutkan membaca Dewi Sari Bunga

Pagi yang Damai di Ujung Genteng

Kala beravonturir, rasanya sangat mudah untuk bangun pagi. Tak ada lagi acara tarik-meringkuk di dalam selimut saat telinga terusik teriakan alarm. Begitu pun halnya saat aku melanglang buana ke pesisir Selatan Sukabumi. Menyapa mentari pagi rasanya jauh lebih menyenangkan daripada sembunyi di balik selimut.

Lanjutkan membaca Pagi yang Damai di Ujung Genteng

Petang di Pesisir Ujung Genteng

Senja perlahan terkikis oleh Sang Malam. Gurat lembayung yang kejinggaan kini telah hilang tersapu gulitanya. Awan-gemawan berduyun ringkih, mereka menggelayuti angkasa yang sepi tak berbintang. Bulan pun malu-malu bersolek di balik tirai kelabunya gemawan. Sinarnya yang redup tak mampu menembus kegelapan malam.

Lanjutkan membaca Petang di Pesisir Ujung Genteng