Fragmen Masa Kecilku

Tak banyak yang kuingat dari masa kecilku. Ingatanku memang payah, yang kuingat hanya fragmen-fragmen kecil yang tidak utuh. Meski aku dilahirkan di Kota Cimahi—kota kecil dipinggiran Kota Bandung, tapi aku cukup banyak menghabiskan waktu kecilku di Kota Cirebon. Setidaknya aku dan keluargaku menetap di Kota Udang itu sampai aku masuk sekolah dasar.

Lanjutkan membaca Fragmen Masa Kecilku

Tintin in the Land of Soviets

Serial “The Adventures of Tintin” ini mulanya dimuat dalam sebuah suplemen untuk anak-anak pada harian asal Belgia: Le Vingtiemè Siècle. Kartun-strip ini digarap oleh Hergè yang saat itu dipekerjakan sebagai seniman di harian tersebut. Meski tidak mendapatkan pendidikan seni yang formal, namun Hergè menunjukan originalitas dan keunikan tersendiri dalam dunia kartun-strip.

Lanjutkan membaca Tintin in the Land of Soviets

Book for Mountain

Ada satu mimpi yang selama ini kurawat: membangun sebuah perpustakaan di pelosok! Ya, aku ingin memiliki sebuah perpustakaan di pelosok negeri ini—dimana pendidikan sulit diakses. Dimana buku adalah barang mewah yang sulit untuk didapat. Sebuah mimpi sederhana yang lahir dari kecintaanku pada negeri ini. Mimpi yang lahir dari dorongan kuat untuk berbagi, untuk memberi arti pada kehidupan orang lain. Aku ingin memberikan sumbangsih pada tanah air yang kucintai ini.

Lanjutkan membaca Book for Mountain

Bersampan di Sunda Kelapa

“Istri Pak?” Tanya pria bertubuh gempal nan kekar di hadapanku ini. Jelas yang ia maksud “istri” adalah kekasihku ini—Alicia Nevriana.

“Calon,” Jawabku singkat sembari melemparkan senyum selebar-lebarnya. Sambil mengaamini dalam hati, kutarik lengan kekasihku, menuntunnya untuk naik di atas sampan milik pria bertubuh gempal ini.

Lanjutkan membaca Bersampan di Sunda Kelapa

An Ode to Perangkonero

Dulu saat aku ditugaskan ke Gorontalo, aku tinggal di Perangkonero—sebuah daerah di Kota Gorontalo, tak jauh dari Universitas Negeri Gorontalo. Saat itu Bulan September, namun musim hujan masih enggan sambang di kota kecil itu. Matahari di Gorontalo sangatlah terik, bahkan di dalam rumah sangat jarang aku mengenakan baju. Bertelanjang dada dengan ditemani kipas angin yang diatur pada kecepatan maksimum.

Lanjutkan membaca An Ode to Perangkonero