Tintin in the Congo

Tintin in the Congo (Tintin au Congo) pertama kali diterbitkan secara serial pada 5 juni 1930. Selama satu tahun seri Tintin in the Congo ini muncul pada suplemen bagi anak-anak di harian asal Brussels: Le Viengtième Siècle. Pada tahun 1931 serial kartun-strip ini kemudian diterbitkan dalam bentuk buku oleh Les Editions du Petit Viengtième. Beberapa bulan kemudian serial ini diterbitkan oleh Editions Casterman of Tournai. Terbitan Caterman inilah yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris.

Lanjutkan membaca Tintin in the Congo

Tintin in the Land of Soviets

Serial “The Adventures of Tintin” ini mulanya dimuat dalam sebuah suplemen untuk anak-anak pada harian asal Belgia: Le Vingtiemè Siècle. Kartun-strip ini digarap oleh Hergè yang saat itu dipekerjakan sebagai seniman di harian tersebut. Meski tidak mendapatkan pendidikan seni yang formal, namun Hergè menunjukan originalitas dan keunikan tersendiri dalam dunia kartun-strip.

Lanjutkan membaca Tintin in the Land of Soviets

30 Hari Keliling Sumatra

Berawal dari undangan pesta perkawinan adat seorang kawan—sesama mantan TKI di Malaysia dulu—di Pariaman, Ary memulai kembali petualangan gilanya. Pasca operasi tumor perutnya, kini daratan Sumatera yang menjadi sasaran keingintahuan Ary yang luar biasa besar itu. Dengan bermodalkan uang empat juta rupiah, ia nekat melanglang buana ke berbagai sudut Sumatera: mulai dari Bukittinggi, Langkat, Medan, Takengon, Banda Aceh, Toba, Palembang, hingga Prabumulih.

Lanjutkan membaca 30 Hari Keliling Sumatra

Indonesia yang Bukan Indonesia

Gila! Itulah pikirku saat tuntas membaca buku ini. Bagaimana seorang Ary Amhir—penulisnya—seorang sarjana dari universitas terkemuka di negeri ini, meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang jurnalis untuk menjadi TKI di negeri Jiran. Selama hampir empat tahun Ary bekerja di sebuah pabrik komponen elektronik di Penang, Malaysia. Membaur, menyelami dan mengamati secara langsung kehidupan para TKI di negeri Jiran itu. Pengalamannya bersentuhan langsung dengan para TKI ini, ia tuangkan dalam buku mikro-etnografi ini.

Lanjutkan membaca Indonesia yang Bukan Indonesia

Arok Dedes

Aku pertama kali mengenal karya Pramoedya Anata Toer saat zaman kuliah dahulu. Kala itu aku membaca Tetralogi Pulau Buru-nya yang fenomenal: Bumi Manusia, dan saat itu juga aku terpukau pada kejeniusannya dalam menulis. Beberapa hari yang lalu, saat aku ditugaskan ke Pulau Kundur—sebuah pulau kecil yang merupakan bagian dari Kabupaten Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau—di sebuah kedai buku kecil dekat pelabuhan, aku mendapati karya beliau yang lainnya: Arok Dedes.

Lanjutkan membaca Arok Dedes

Ronggeng Dukuh Paruk

Novel karya Ahmad Tohari ini merupakan buku pertama dari rangkaiaan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Sebuah trilogi yang juga telah diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar dengan judul “Sang Penari”. Pada buku pertama ini, diceritakan tentang lahirnya kembali seorang ronggeng di Dukuh Paruk—sebuah dusun yang terpencil dan terbelakang.

Lanjutkan membaca Ronggeng Dukuh Paruk