Petualangan Imajiner

Kedua telapak tanganku menggenggam erat ekor dari sepasang sapi yang akan kupacu. Halilintar dan Guntur. Kaki kiriku terendam lumpur halus setinggi mata kaki, sementara kaki kananku memijak kokoh batang bambu yang melintang di antara kedua bajak. Halilintar melenguh, mendengus keras kala dicekoki ramuan pendongkrak stamina—hasil campuran madu lebah dan telur ayam kampung. Jantung ku pun berdetak kian kencang. Peluh menetes deras dari dahi, ke pipi, hingga akhirnya bermuara ke ujung daguku. Ini memang saat-saat paling mendebarkan dalam hidupku. “Risan Bagja Pradana!”, namaku menggema dari pengeras suara milik panitia. Ini giliranku untuk turun ke arena Pacu Jawi!

Lanjutkan membaca Petualangan Imajiner