Air Bertuah Curug Cikaso

Di kursi belakang, jari-jemarinya yang halus menggenggam tempurung lutut kananku. Telapak tanggannya terasa sangat halus kala bersinggungan dengan kulitku. Tudung kepalanya telah ia lepas. Rambut hitamnya yang panjang, tergerai melebihi bahunya yang mungil. Helai-helai rambutnya beterbangan tertiup angin yang menyelusup dari pintu Elf yang menganga lebar. Tak jarang helai-helai rambutnya mendarat di wajahku, menguarkan aroma sampo yang khas.

Lanjutkan membaca Air Bertuah Curug Cikaso