Dewi Sari Bunga

Sebenarnya ada yang sedikit mengganjal pagi itu. Pintu kamar-kamar di penginapan tertutup rapat semua. Gorden-gordennya pun rapat menutupi kaca jendela kamar yang kehitaman. Lampu pijar yang kuning keremangan tampak menyala di dalam deretan kamar-kamar itu. Dan kini ada beberapa sepeda motor terparkir di lorong penginapan yang sempit. Padahal kami sangat yakin, semalam hanya kami yang menginap di penginapan ini.

Lanjutkan membaca Dewi Sari Bunga

Aku Ingin Petualangan

Kala remaja cita-citaku sederhana, seperti remaja-remaja kebanyakan. Lepas SMA, kuliah di fakultas teknik ternama, diwisuda, kemudian bekerja di perusahaan-perusahaan swasta yang bonafit. Perusahaan minyak multinasional misalnya. Tak jarang juga aku mempertimbangkan untuk menjadi seorang programmer, yang tak perlu sering-sering pergi ke kantor. Cukup diam di rumah, duduk di hadapan komputer sembari memainkan tuts-tuts keyboard, meramu ribuan baris program.

Lanjutkan membaca Aku Ingin Petualangan

Negeri Saleman, Negeri Penuh Pesona

Indonesia Timur memang surganya para pecinta keindahan alam, terutama keindahan wisata baharinya. Indonesia Timur tak ubahnya seperti sebuah peti harta karun yang menyimpan sejuta pesona. Siapapun pasti ingin menjamah keindahannya. Pasir pantai yang putih halus. Lautan yang biru jernih. Terumbu karang yang berwarna-warni. Ikan-ikan yang menari. Ah rasanya kata-kata tak akan pernah cukup untuk menggambarkan keindahannya.

Lanjutkan membaca Negeri Saleman, Negeri Penuh Pesona

Pagi yang Damai di Ujung Genteng

Kala beravonturir, rasanya sangat mudah untuk bangun pagi. Tak ada lagi acara tarik-meringkuk di dalam selimut saat telinga terusik teriakan alarm. Begitu pun halnya saat aku melanglang buana ke pesisir Selatan Sukabumi. Menyapa mentari pagi rasanya jauh lebih menyenangkan daripada sembunyi di balik selimut.

Lanjutkan membaca Pagi yang Damai di Ujung Genteng

Petang di Pesisir Ujung Genteng

Senja perlahan terkikis oleh Sang Malam. Gurat lembayung yang kejinggaan kini telah hilang tersapu gulitanya. Awan-gemawan berduyun ringkih, mereka menggelayuti angkasa yang sepi tak berbintang. Bulan pun malu-malu bersolek di balik tirai kelabunya gemawan. Sinarnya yang redup tak mampu menembus kegelapan malam.

Lanjutkan membaca Petang di Pesisir Ujung Genteng