Kisah Tiga Vampir

Purnama bersinar dengan terang malam itu. Di atas bukit yang hijau, putih cahayanya menerobos sela-sela jalinan daun pepohonan dan menyinari tanah lembab di dasarnya.

Di sana di antara barisan pepohonan pinus, berdirilah tiga vampir yang sedang bercengkrama melewatkan malam purnama itu. Vampir termuda bernama Edward. Wajahnya sangat rupawan. Rambut coklatnya yang sedikit ikal berkilauan disinari sinar rembulan.

Disampingnya berdiri vampir dengan jubah ala vampir abad pertengahan: kerah meninggi dengan warna hitam di luar dan merah di dalamnya. Namanya Bram.

Tidak jauh dari mereka berdua berdiri vampir tertua, penampilannya mengerikan, tidak seperti kebanyakan vampir lain yang rupawan. Namanya Pram.

Edward: “Bosan sekali rasanya, tidak adakah yang bisa kita lakukan malam ini untuk bersenang-senang?”
Pram: “Kau benar, bagaimana kalau kita adakan semacam perlombaan?”
Edward: “Ya, setuju!”
Bram: “Ehmmm, oke. Perlombaan macam apa?”
Pram: “Bagaimana kalau kita unjuk kebolehan dalam hal menghisap darah?”
Edward: “Terdengar menyenangkan!”
Bram: “Oke, kau Edward, yang paling muda pergi pertama!”
Edward: “Oke, perhatikan!”

Tanpa menunggu komando lagi, Edward melesat bagaikan angin. Dengan sigap ia turuni bukit. Sekitar sepuluh menit kemudian Edward sudah kembali dan memperlihatkan taring dan lidahnya dibanjiri darah.

Bram: “Waaaaw!”
Edward: “Kalian lihat tiga gadis yang sedang berjalan di bawah bukit tadi?”
Bram & Pram: “Iya.”
Edward: “Darah ketiganya sudah saya hisap habis!”
Bram: “Boleh juga, tapi itu belum seberapa. Perhatikan saya!”

Brampun melesat secepat kilat menyusuri punggung bukit yang landai. Belum berselang lima menit, ia sudah kembali dengan darah merah melumuri tepian bibirnya.

Edward: “Wow!”
Bram: “Kalian lihat sekelompok manusia yang berkemah di kaki bukit itu?”
Edward & Pram: “Iya.”
Bram: “Semua yang berkemah disana sudah saya hisap habis darahnya!”
Edward: “Wow, itu keren sekali!
Pram: “Kalian berdua memang masih hijau, belum tahu apa-apa. Perhatikan aksiku!”

Hanya dalam kedipan mata Prampun melesat menuruni bukit. Belum genap satu menit, Pram sudah kembali lagi. Bukan hanya bibir, darah merah segar melumuri seluruh wajahnya yang memang sudah mengerikan.

Edward & Bram: “Waaaaaw! Darahnya banyak sekali! Apa yang kau lakukan?”
Pram: “Kalian lihat pohon di depan sana?”
Edward & Bram: “Iya, lihat.” Jawab mereka keheranan.
Pram: “Ah, sial! Saya tidak melihatnya!”

Foto dari Unsplash oleh Ganapathy Kumar.

Diterbitkan oleh

Risan Bagja Pradana

I read Linux man pages before going to bed 🤓

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s