Bianglala

Langit malam itu mendung

Cahaya gemintang yang lemah tak mampu menembus gelapnya langit
Sedari sore sepleton awan hitam bergelantungan di langit-langit kota
Tapi tak ada setetespun hujan yang turun membasuh jalanan yang berdebu

Temaram lampu-lampu kota mengawal langkahku
Redup cahayanya memantul-mantul di jalan-jalan milik
para kekasih, mereka yang meninggalkan, mereka yang ditinggalkan
para pelancong, mereka yang meminta, mereka yang mabuk

Hembus angin malam menutupi jejakku
Rintih semilirnya membisikan pesan kesedihan yang mendalam

Kakiku terus mengayun
Tak peduli kemanapun kakiku melangkah, ku hanya ingin terus berjalan
Jantungku berdegup perlahan
Degupannya keras menggema dalam rongga-rongga yang kini telah kosong tak bertuan
Pikiranku kosong
Aku sepotong daging yang bisa berjalan tapi tak berjiwa

◈◈◈

Di sana aku berhenti
Di jalan yang aku tidak tahu namanya

“Kalau mau lewat sini harus pake tiket mas”
Tegur seorang lelaki penjaga jalan
Kusodorkan dua lembar uang seribu dan satu keping uang limaratus
Layaknya pertunjukan bioskop, si lelaki memberiku sebuah tiket
Tercetak di sana “PASAR MALAM – PERAYAAN SEKATEN YOGYAKARTA”

Kulangkahkan kaki menerobos keramaian
Di kiri di kanan terjejer panganan yang aku tidak tahu namanya
Ada yang merah, hijau, coklat, warna-warni tetapi kebanyakan merah
Hanya dua yang kutahu: permen kapas dan gorengan

Ada seorang ayah-ibu bersama putra-putrinya
Ada sepasang kekasih yang sumringah senyumnya
Ada pemuda-pemudi yang bergerombol
Ada juga yang sendirian seperti diriku malam itu

Terus kumenerobos jalan yang penuh sesak itu
Kini kudapati kiri kananku berjejer wahana permainan
Tong setan, komidi putar, bianglala, rumah hantu, kuda-kudaan, pesawat-pesawatan, ombak banyu, balon-balon raksasa

Kuisi perutku dengan sate yang kutidaktahu namanya
Kududukan tubuhku tepat disamping ibu penjual yang kutidaktahu namanya
Asapnya sekali-kali menghampiriku
Tidak banyak yang diperbincangkan, kami berdua berbeda bahasa

Tepat di depanku bianglala berputar dengan semangat
Lampu-lampu neon merah, hijau dan kuning berjejer menghiasi jari-jari bianglala
Kotak-kotak speaker hitam melantunkan lagu yang kutidaktahu judulnya
Semua pengunjung tersenyum, tertawa kecil, tertawa terbahak-bahak
Seketika itu juga rongga-rongga kosong dalam dadaku terisi sejumlah perasaan yang menyenangkan
Nafasku berhembus, senyumku tertarik

Hidup tidak selamanya menyenangkan
Adakalanya penuh kesedihan, kekecewaan, hilang pengharapan, kesepian
Tapi itulah hidup, seperti bianglala itu, berputar terus menerus
Bianglala dengan warna-warni lampu neonnya

Karena kesedihanlah yang mengajarkan kita betapa mewahnya sebuah kegembiraan
Karena kekecewaanlah yang mengajarkan kita betapa berharganya sebuah penghargaan
Karena keputusasaanlah yang mengajarkan kita betapa ajaibnya sebuah pengharapan
Karena kesepianlah yang mengajarkan kita arti kebersamaan

Foto dari Unsplash oleh Andrea Enríquez Cousiño.

Diterbitkan oleh

Risan Bagja Pradana

I read Linux man pages before going to bed 🤓

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s