Siapa Saya?

Malam kemarin saya baru sempat membaca buku “SOE HOK-GIE, sekali lagi” yang sebenarnya sudah beberapa minggu lalu saya beli. Buku ini mengulas secara mendalam sosok teladan Hok-Gie, seorang aktivis mahasiswa. Sebagai informasi: walaupun bukunya cukup tebal, tetapi harganya relatif terjangkau karena mendapat suntikan dana dari beberapa instansi.

Ketika melihat-lihat secara sekilas isi bukunya, saya tertarik dengan bagian-bagian terakhir buku yang berisi berbagai tulisan yang pernah ditulis oleh Hok-Gie. Pada halaman 459, saya menemukan tulisan Hok-Gie yang berjudul: “SIAPAKAH SAYA?” Berikut tulisan lengkapnya:

Belum lama berselang di hadapan mahasiswa-mahasiswa Fakultas Sastra UI telah diputar sebuah film Cekoslavia “…Dan Penunggang Kuda Kelima Adalah Ketakutan” (“…And The Fifth Rider is Fear”). Film ini adalah kisah manusia dan ketakutannya lalu bagaimana akhirnya ia menemukan dirinya mengalahkan ketakutan. Musik, pengambilan tema maupun suasana film ini sedemikian rupa sehingga mencekam hati manusia.

Kisahnya tetang seorang dokter Yahudi yang dilarang praktik oleh Nazi di kota pendudukan Praha pada waktu Perang Dunia II. Oleh orang-orang Nazi ia disuruh untuk menjadi penjaga barang-barang sitaan. Suatu hari ia disuruh untuk menolong seorang partisan yang tertembak dan disembunyikan dekat kamarnya. Ia menolak karena ia tahu apa akibatnya jika ia ketahuan oleh pihak polisi rahasia.

“Saya bukan seorang dokter, saya hanyalah seorang penjaga gudang dan oleh karena itu bukanlah kewajiban saya untuk menolongnya,” katanya. Tapi ia tidak dapat membohongi kata hatinya, bahwa ia seorang dokter (walaupun sekarang dilarang praktik) dan harus menolong siapa pun juga. Akhirnya setelah melawan dirinya sendiri, ia memutuskan untuk menolong partisan yang luka itu.

Pada waktu itu seseorang dapat dihukum jika ia tidak melaporkan sesuatu yang mencurigakan. Seorang tetangganya yang curiga dengan tingkah laku sang dokter melaporkan pada polisi. Karena ia takut akibatnya jika ia tidak melaporkan pada polisi. Sang dokter ditangkap. Ia ditanya mengapa ia melakukan hal itu. Jawabanya sangat sederhana: “Seorang manusia adalah seperti yang dipikirkanya, kau tak dapat mengubahnya.” (A man is as he thinks, you can’t change it).

Persoalan yang dilontarkan oleh film ini kepada kita adalah persoalan kemanusiaan. Dan sebagai manusia kita dihadapakan pada pemilihan-pemilihan yang meragukan. Sebelum melakukan sesuatu kita harus menanyakan pada diri sendiri: “Siapakah saya?” Dan jawaban kita menentukan pilihan-pilihan kita. Sang dokter tadi juga harus menjawab pertanyaan besar ini. Jika ia menyatakan hanya seorang penjaga gudang (profesi resminya) maka soalnya selesai. Demikian pula halnya dengan tetangganya yang melapor pada polisi. Jika ia memutusakan ia hanyalah warga yang harus patuh pada polisi maka tindakanya adalah benar. Tetapi jika ia menyatakan bahwa dirinya adalah manusia Cekoslavia yang harus membantu perjuangan bangsanya, soalnya sangat berubah. Kitalah yang menentukan diri kita dalam menentukan pilihan-pilihan.

“Ya saya cuma bawahan kecil yang hanya menurut perintah atasan. Jika atasan saya bilang X maka saya harus patuh,” kata seorang pembantu letnan pada seorang dosen VI ketika ditanyakan mengapa ia mau melakukan perintah yang jelas-jelas merupakan tindakan manipulasi. Sang pembantu letnan tadi telah memutuskan dirinya sebagai manusia kecil dan ia tak pernah berkembang menjadi MANUSIA dengan ‘M’ BESAR.

Seorang jendral membiarkan dirinya diperalat seorang pedagang besar (katakanlah diangkat sebagai presiden direktur boneka) biasanya berkata: “Gaji saya tidak cukup, dan anak saya banyak. Lagi pula teman-teman saya juga melakukan hal yang sama.” Ia juga telah menjawab siapakan dia. Dia telah menentukan dirinya seorang alat dan sebagai alat ia harus memfungsikan dirinya sebaik-baiknya. Sebagai alat ia tak akan pernah menjadi pemimpin yang baik.

Orang Indonesia sekarang amat mudah merasionalisasikan keadaan. Kepengecutannya dirasionalisasikan sebagai kepatuhan. Kemalasan dirasionalisasikan sebagai kesulitan ekonomi (ada seorang dosen malas yang selalu bilang tak ada ongkos jika ditanyakan mengapa ia tidak mengajar).

Kadang-kadang kita bertanya kepada diri kita sendiri “Siapakah Saya?” Apakah saya seorang fungsionaris partai yang kebetulan menjadi mahasiswa sehingga harus patuh pada instruksi dari bapak-bapak saya dalam Partai. Apakah saya seorang politikus yang harus selalu realisitis dan bersedia menerima kompromi-kompromi prinsipal dan tidak boleh punya idealisme yang muluk-muluk? Apakah saya seorang kecil yang harus patuh pada setiap keputusan dalam DPP ormas saya, atau pimpinan fakultas saya, atau pemimpin-pemimpin saya? Ataukah saya seorang manusia yang sedang belajar dalam kehidupan ini dan mencoba terus-menerus untuk berkembang dan menilai secara kritis segala situasi. Walaupun pengetahuan dan pengalaman saya terbatas?

Setiap hari pertanyaan tadi datang. Saya katakan pada diri saya sendiri: Saya adalah seorang mahasiswa. Sebagai mahasiswa saya tidak boleh mengingkari wujud saya. Sebagai pemuda yang masih belajar dan mempunyai banyak cita-cita, saya harus bertindak sesuai dengan wujud tadi.

Karena itu saya akan berani untuk berterus terang, walaupun ada kemungkinan saya akan salah tindak. Lebih baik bertindak keliru daripada tidak bertindak karena takut salah. Kalaupun saya jujur terhadap diri saya, saya yakin akhirnya saya akan menemukan arah yang tepat. Saya adalah seorang manusia dan bukan alat siapa pun. Kebenaran tidaklah datang dalam bentuk instruksi dari siapa pun juga, tetapi harus dihayati secara “kreatif”. A man is as he thinks.

Kadang saya bertanya pada kenalan-kenalan saya “Siapakah kamu?” Seorang tokoh mahasiswa menjawab: “Saya adalah antek partai saya. Kebenaran ditentukan oleh DPP Partai.”

◈◈◈

Jadi siapa dirimu?

Apakah rekan-rekan lebih memilih untuk menjadi manusia dengan ‘m’ kecil atau berani mengambil risiko untuk menjadi MANUSIA dengan ‘M’ BESAR?

Ikutilah apa yang hati kecilmu teriakan, Tuhan telah menganugerahkan manusia ‘hati’ yang selalu mengatakan kebenaran.

Seorang teman lama pernah memberi saya nasehat: “The best advice that you can ever give or receive is to be yourself.” (“Nasehat terbaik yang bisa kamu terima atau berikan adalah menjadi dirimu sendiri.” Sekarang saya tambahkan menjadi “The best advice that you can ever give or receive is to be the BEST of yourself.” Jadilah manusia yang bebas, bebas menentukan peran terbaik yang akan dipentaskannya di panggung dunia.

Foto dari Unsplash oleh Maxim Smith.

Diterbitkan oleh

Risan Bagja Pradana

I read Linux man pages before going to bed 🤓

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s